Jumat, 28 Maret 2014

bahaya kebakaran

MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KEBAKARAN


LATAR BELAKANG
      Kebakaran disuatu tempat sangat merugikan orang, baik secara pribadi, kelompok, umum dan Nasional, oleh karena itu perlu dihindari terjadinya suatu kebakaran. Apabila hal ini tidak mungkin dihindari, maka perlu penanggulangan. Penanggulangan Kebakaran diperlukan adanya peralatan Proteksi yang memadai.
     Penanggulangan ditempat Kerja sebenarnya telah diatur melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I No.KEP.186/MEN/1999, tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.
     Tempat Kerja maksudnya disini adalah ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga Kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga Kerja untuk keperluan suatu Usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.

PERMASALAHAN
     1. Bagaimana teknik dan taktik mencegah kebakaran ?
     2. Apa Isi dari KepMen Tenaga Kerja R.I No. KEP/186/MEN/1999 ?

TUJUAN
      Tujuan merupakan yang sangat penting dalam setiap kegiatan atau pekerjaan. Tanpa mengetahui apa tujuan yang akan dicapai, tentu kita tidak mengetahui arah yang harus di tempuh. Maka tujuan makalah ini adalah agar pembaca pada Umumnya dan peserta Kuliah K3 pada khususnya dapat mengetahui dan menerapkan teknik dan taktik mencegah kebakaran di tempat kerja masing-masing.

PEMBAHASAN
MENCEGAH KEBAKARAN DAN MENANGGULANGI KEBAKARAN
Sebelum kita sampai kepada Mencegah dan menanggulangi kebakaran terlebih dahulu kita mengetahui apa itu kebakaran, dan mengetahu jenis-jenis kebakaran sehingga tidak terjadi salah menanggulangi kebakaran itu sendiri. Pengertian Api adalah Persenyawaan kimia secara cepat antara zat pembakar (O2) dengan bahan bakar (padat, cair dan gas ) ditambah dengan Panas, Zat pembakar (O2) diperoleh dari udara disekeliling kita, dimana udara mempunyai unsur kimia sebagai berikut : Nitrogen  : 71 %, Oxigen  : 21 %, Helium atau unsur lain : 1% . Jadi kebakaran adalah Api yang tak dapat dikontrol atau dikuasai.

1.  Jenis-jenis kebakaran
Kebakaran dapat terjadi disebabkan oleh berbagai factor seperti : Kelalaian manusia,  Perbuatan segaja, Main-main, Akibat panas mekanik, Akibat penyalaan yang tiba-tiba dari gas mudah terbakar, Akibat arus listrik, akibat penyalaan sendiri dari sinar matahari yang difokuskan dan akibat petir.
Jenis  api  kebakaran  dapat  dibedakan   menurut  kelas-kelas  asal  apinya   yaitu
sebagai berikut :
Ø  Api kelas A
      Yaitu api yang ditimbulkan kebakaran benda padat seperti kayu, kertas,
       Tekstil, plastic dan sebagainya     
Ø  Api kelas B
       yaitu api yang ditimbulkan kebakaran benda cair seperti bensin, minyak
       lampu, solar, cat, ter, terpentin, dan sebagainya
Ø  Api kelas C
      Yaitu api yang ditimbulkan kebakaran akibat arus listrik.
Ø  Api kelas D Yaitu api yang ditimbulkan dari logam seperti potassium, sodium, magnesium dan sebagainya.

2.Alat-alat pemadam kebakaran
      Pada zaman dahulu sebelum terdapat alat-alat dan bahan-bahan pemadam api kebakaran secara penemuan baru, telah digunakan orang alat-alat dan bahan pemadam api kebakaran yakni : Tangga untuk memanjat mencapai bahan yang terbakar tongkat berkait untuk menarik dan mendorong agar bangunan yang sedang terbakar runtuh, pasir dengan sekopnya untuk menimbun sumber nyala api supaya segera padam atau karung goni yang dibasahi air.
Tetapi tidak sembarangan api yang dapat dipadamkan dengan satu jenis pemadam kebakaran. Air dan pasir/tanah adalah bahan murah dan paling baik untuk memadamkan api, tetapi tidak dapat digunakan pada segala macam kebakaran, air boleh dipakai untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan kayu, kertas, kain plastic dan benda-benda sejenisnya. Sedangkan untuk kebakaran jenis minyak sebaiknya menggunakan bahan kimia yang sudah tersediah dalam tabung-tabung extinguisher dan dijual ditoko-toko alat pemadam kebakaran, seperti Yamato atau extinguisher dan sebagainya. Untuk kebakaran yang diakibatkan arus listrik sebaiknya digunakan Dry Powder extinguisher.
  Pada setiap tabung kebakaran ( extinguisher ) selalu diberi keterangan, baik tipe maupun penggunaannya seperti :
  • Tabung bersimbol huruf A yang terletak dalam segitiga warna hijau, dapat dipakai untuk memadamkan kebakaran dari kayu, kertas, kain ,plastic dan sebagainya
  • Tabung dengan bersimbol huruf B didalam persegi panjang berwarna  merah dipergunakan untuk memadamkan kebakaran dari jenis minyak, cat, ter, terpentin dan sebagainya.
  • Tabung  dengan bersimbol huruf C di dalam lingkaran berwarna biru, dapat dipakai untuk memadamkan api listrik, atau api  akibat terbakarnya isolasi listrik, atau pemadaman terhadap panel sekelar-sekelar, motor-motor listrik dan sebagainya.
  • Tabung bersimbol huruf D di dalam  bintang yang berwarna kuning, dipakai untuk memadamkan api kebakaran yang diakibatkan oleh logam, seperti magnesium, potassium, sodium, titanium, dan  sebagainya.
  • Setiap api kebakaran dapat dipadamkan tetapi tidak sejenis cara memadamkannya. Kesalahan dari pada cara memadamkan ini mengakibatkan bahaya yang lebih besar, api akan makin berkobar terus.
  Alat-alat pemadam kebakaran yang mengamankan ruangan, termasuk adanya pintu darut, yaitu untuk mengatasan dan penyelamatan diri dari bahaya kebakaran dan bahaya keruntuhan karena gempa dan sebagainya. Semua orang yang berada di lingkungan ruang bengkel dapat segera mengenal gejala-gejala kebakaran dari bahan yang mudah terbakar, mengenal jenis api, mengenal alat-alat pemadam kebakaran dan mengenal alat-alat tanda.
Kebakaran, harus trampil pula menghindari bahaya kebakaran, trampil menyelamatkan jiwa, trampil menyelamatkan dokumen dan barang-barang yang berharga dan sebagainya 

3. Mencegah Kebakaran dengan mengenal Alat-alat Tanda  Bahaya
a. Fire Alarm
        Pada Umumnya  alat ini  berbentuk bundar atau persegi empat berwarna marah dan memakai kaca disertai alat pemukul. Pada alat ini bertulisan IN CASE OF FIRE BREAK GLASS dan pada umumnya dipasang disetiap bangunan bengkel.
        Bila kaca penutup bel dipecahkan, maka berderinglah dengan terus menerus lonceng bahaya itu sebagai tanda adanya kebakaran.
b. Fire lock ( Safety Sequrity )
Fire lock berupa papan dari baja pelat. Pada alat ini dapat terlihat dengan jelas tanda-tanda warna yang disesuaikan dengan bangunan-bangunan bengkel. Bila terjadi kebakaran di salah satu bengkel, maka menyalalah warna sebagai tanda di bengkel itu. Pemasangan papan tanda warna atau fire lock ini berdekatan dengan fire alarm.
c. Lonceng Besi
           Lonceng ini dapat dibuat dari potongan besi yang digantungkan. Bila terjadi kebakaran hendaknya dipukul 2 kali berulang-ulang sebagai tanda pemberitahuan
d. Photoelectric Detector
Photoelectric Detector adalah alat untuk mendetecsi adanya api
e. Dengan lisan atau suara,
        Hal ini digunakan un tuk meminta pertolongan dari yang berada pada tempat itu atau dari petugas-petugas keamanan, berteriak memberitakan adanya kebakaran dan memohon bantuan.
4. Menanggulagi   Kebakaran menurut kelas-kelasnya.
Ø  Kelas A
      Untuk Jenis Api kelas A  yaitu kebakaran bahan padat, seperti : Kayu, bambu, tekstil, kertas, karet, aspal, sampah dan sebagainya.
a.  Bila kebakaran masih kecil, gunakanlah alat atau bahan pemadam kebakaran seperti : karung basah, pasir, atau alat Air Pressurized Water extinguisher.
b. Bila api kebakaran telah besar, gunakan langsung semburan air atau hydrant didahului dengan cara menjauh semua bahan atau barang yang berdekatan dengan sumber api, supaya tidak menjalarkan api.
c.  Bila menurut dugaan tidak mampu diatasi oleh karena semakin besarnya api, segera laporkan ke instansi pamadam kebakaran.
Ø  Kelas B
      Untuk jenis api kelas B, yaitu kebakaran bahan cair, misalnya seperti bensin,     solar, Minyak lampu, asam belerang dan sebagainya.
a.  Bila api masih cukup kecil, gunakan alat atau bahan pemadam seperti karung goni atau barang basah, pasir atau Sebaiknya gunakan Gas Carbon Dioxide Extinguishers (Pemadam Api Gas Asam Arang), tetapi dilarang menggunakan semburan air karena dapat mempercepat menjalarnya api ketempat lain.
b.  Bila ternyata cairan yang terbakar sudah habis, sedang api kebakaran semakin membesar dan pindah ke benda lain atau pindah ke tempat lain, segaralah pergunakan semburan air atau hydrant.

Ø  Kelas C
   Untuk jenis Api kelas C, yaitu kebakaran akibat Listrik
a.  Putuskan semua hubungan arus listrik yaitu semua sakelar di ruangan,   terutama hubungan di induk atau gardu.
b. Bila diragukan bahwa arus listrik masih ada, lebih-lebih semua hubungan listrik belum diputuskan janganlah menyemburkannya dengan air atau cairan lainnya, sebab akan mengakibatkan celaka akibat kejutan listrik, gunakanlah tabung pemadam yang besimbol huruf C didalam lingkaran yang berwarna biru, yang di dalamnya terdapat tepung untuk pemadam secara kimia, atau Gas Carbon Dioxide Extinguisher.
Ø  Kelas D
                  Untuk jenis Api kelas D, yitu akibat panas Logam
a.  Bila kebakaran masih kecil, gunakan alat atau bahan pemadam alat fire extinguisher. kebakaran seperti : karung basah, pasir, atau
b. Bila api kebakaran telah besar, gunakan langsung semburan air atau hydrant didahului dengan cara menjauh semua bahan atau barang yang berdekatan dengan sumber api, supaya tidak menjalarkan api.
        c.  Bila  menurut  dugaan  tidak   mampu  mengatasi    kebakaran. Oleh  karena
             semakin besar api, segera laporkan ke instansi Pemadam kebakaran.
5. Langkah-Langkah ketika tarjadi kebakaran
a.  Kuasailah atau atasilah manusia yang ada di tempat kejadian dalam usaha memadamkan api kebakaran selama masih mampu mengerjakan
b.  Bunyikan bel atau lonceng dengan jalan memecahkan kaca fire alarm yang terdekat untuk memberitahukan adanya bahaya kebakaran.
c.  Laporkan kejadian di tempat kejadiannya kebakaran oleh salah seorang petugas jaga atau piket ke kantor atau pemimpin untuk mendapatkan bantuan dari dalam dan luar.
d. Hentikan semua kegiatan pekerjaan, hentikan pula semua mesin mesin danputuskan semua aliran listrik, tutup dan amankan semua tempat-tempat gas.
e.  Bukalah semua pintu keluar dan keluarkan semua orang atau pekerja yang tidak bertindak mengatasi kebakaran.
f.  Tempatkan semua orang yang keluar itu di suatu tempat yang tenang dan aman, segeralah dipanggil menurut daftar hadir. Bila ternyata seseorang tidak ada dalam panggilan, segeralah teliti dimana orang itu.
g.  Semua regu dan semua orang yang diberi tugas khusus kebakaran : bekerja dalam keadaan tabah dan lancer.

DAFTAR JENIS TEMPAT KERJA BERDASARKAN KLASIFIKASI POTENSI BAHAYA

KLASIFIKASI
JENIS TEMPAT KERJA
Bahaya Kebakaran Ringan
Tempat kerja yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar rendah, dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah sehingga menjalarnya api lambat
  • Tempat ibadah
  • Gedung/ruang Perkantoran
  • Gedung/ruang Pendidikan
  • Gedung/ruang Perumahan
  • Gedung/ruang Perawatan
  • Gedung/ruang Restoran
  • Gedung/ruang Perpustakaan
  • Gedung/ruang Perhotelan
  • Gedung/ruang Lembaga
  • Gedung/ruang Rumah sakit
  • Gedung/ruang Museum
  • Gedung/ruang Penjara
Bahaya Kebakaran Sedang I
Tempat kerja yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, menimbun bahan dengan tinggi tidak lebih dari 2,5 meter dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang
  • Tempat Parkir
  • Pabrik Elektronika
  • Pabrik roti
  • Pabrik barang gelas
  • Pabrik minuman
  • Pabrik permata
  • Pabrik Pengalengan
  • Binatu
  • Pabrik susu
Bahaya Kebakaran Sedang II
Tempat kerja yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakara sedang, menimbun bahan dengan tinggi lebih dari 4 meter dan apbila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang sehingga menjalarnya api sedang
  • Penggilingan padi
  • Pabrik bahan makanan
  • Percetaqkan dan penerbitan
  • Bengkel mesin
  • Gudang pendinginan
  • Perakitan kayu
  • Gudang perpustakaan
  • Pabrik barang keramik
  • Pabrik tembakau
  • Pengolahan logam
  • Penyulingan
  • Pabrik barang kelontong
  • Pabrik barang kulit
  • Pabrik tekstil
  • Perakitan kendaraan bermotor
  • Pabrik kimia (kimia dengan kemudahan terbakar sedang)
  • Pertokoan dengan pramuniaga kurang dari 50 orang
Bahaya kebakaran Sedang III
Tempat kerja yang mempuyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi, dan apabia terjadi kebakaran melepaskan anas tinggi, sehingga menjalarnya api cepat
  • Ruang pameran
  • Pabrik permadani
  • Pabrik makanan
  • Pabriksikat
  • Pabrik Ban
  • Pabrik Karung
  • Bengkel mobil
  • Pabrik sabun
  • Pabrik tembakau
  • Pabrik lilin
  • Studio dan pemancar
  • Pabrik barang plastik
  • Pergudangan
  • Pabrik pesawat terbang
  • Pertokoan dengan pramuniaga lebih dari 30 orang
  • Penggergajian dan pengolahan kayu
  • Pabrik makanan kering dari bahan tepung
  • Pabrik minyak nabati
  • Pabrik tepung terigu
  • Pabrik pakaian
Bahaya kebakaran Berat
Tempat kerja yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi, menyimpan bahan cair
  • Pabrik kimia dengan kemudahan terbakar tinggi
  • Pabrik kembang api
  • Pabrik korek api
  • pabrik cat
  • Pabrik bahan peledak
  • Penggergajian kayu dan penyelesaannya menggunakan bahan mudah terbakar
  • studo film dan televisi
  • Pabrik karet buatan
  • Hanggar pesawat terbang
  • Penyulingan minyak bumi
  • Pabrik karet busa dan plastik busa
 KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut  :
            1.   Setiap orang hendaklah tau tanda-tanda kebakaran
            2.    Dapat mengenal alat-alat kebakaran                     
3.    Mengerti/ tau teknik dan taktik mencegah kebakaran
4.    Dapat menanggulangi kebakaran dengan tepat, sesuai dengan jenis-jenis
       kebakaran yang terjadi.
Saran
            Berdasarkan kesimpulan diatas penulis menyarankan  :
1.  Pelajaran K3 hendaklah dimuat pada kurikulum sekolah tidak hanya pada kurikulum sekolah kejuruan saja.
2.   Sosialisasi K3 harus  dilakukan pada  setiap orang  yang mau  memasuki suatu
      pekerjaan baik pada saat trening maupun pelatihan sesudah bekerja.


Daftar Rujukan

Fahmi Idris, 1999, Keputusan Menteri tenaga Kerja RI No. KEP.186/MEN/1999,
                               Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia.
         Tia Setiawan dkk, 1981, Keselamatan Kerja dan Tata laksana Bengkel, Jakarta
                               DepdikBud Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
        Joko Kustono, 2005, CD , Universitas Negeri Malang.



Kamis, 07 Oktober 2010

OLIMPIADE SAIN TERAPAN NASIONAL

OSTN Prov. jateng di laksanakan di UNDIP.
tanggal 7 sampai dengan 10 oktober 2010.
mata lomba yang di selenggarakan adalah Kimia, fisika, biologi, matematika, IT.
SMKN 2 kendal mengirimkan 8 peserta untuk 4 mata lomba.
semoga succes. semuanya.

Selasa, 02 Maret 2010

bagaimanakah desain otak manusia??

Saat kita merenung, cobalah pertimbangkan teori yang saya dapat bahwa otak manusia ternyata di design untuk mencari nikmat dan menghindari sengsara. Nah berdasarkan teori tersebut, saat kita merenung, cobalah bayangkan betapa sengsaranya kita kalau kita tidak melakukan perubahan apapun dimana kita tetap akan merasakan kemacetan dijalan, penuh sesaknya bila naik kendaraan umum, kurangnya waktu kita untuk keluarga, himpitan hutang yang semakin membengkak , dan kesengsaraan lain yang akan kita hadapi bila kita tidak berubah dan dibarengi dengan emosi yang dahsyat agar perasaan sengsara tersebut benar-benar mengganggu alam bawah sadar kita. Begitu juga sebaliknya saat kita membayangkan keindahan kehidupan kita bila kita mau melakukan perubahan dan juga harus dibarengi dengan emosi yang kuat sehingga alam bawah sadar kita akan membantu mengarahkan diri kita untuk mencapai kenikmatan yang sudah kita bayangkan dan menghindari kesengsaraan yang juga sudah kita bayangkan.

Cobalah lakukan hal tersebut di saat kita dalam kondisi rilek dan lakukan beberapa kali dengan memanggil emosi dalam diri kita supaya segera terjadi perubahan yang kita inginkan didalam diri kita. Karena ada orang bijak yang mengatakan, kalau kita bisa menguasai diri kita, maka kita akan bisa menguasai dunia. Untuk menguasai diri kita, kita harus bisa berbicara dengan alam bawah sadar kita yang menguasai 86%-90% dari diri kita dimana alam bawah sadar bertugas untuk melindungi diri majikannya (diri kita) dari kesengsaraan dan mencari kenikmatan yang diinginkan.Semoga bermanfaat.

Senin, 01 Maret 2010

TENTANG MALAYSIA?????

Sering kita mendengar berita-berita miring tentang Malaysia. Dan bagaimana yang sebenarnya tentang malaysia itu sendiri?
sedikit akan kami sampaikan gambaran tentang malaysia. Pengalaman dan informasi ini kami dasarkan kenyataan dari pengamatan selama belajar di malaysia.
Tahun 2006, 2007 tepatnya di Universitas Tun Husein On Malaysia, Parit Raja, Batu Pahat, Johor Bahru, bersama 29 orang teman dan saudara-2 dari Indonesia dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu.
Banyak yang di dilihat dan di rasakan kehidupan yang ada di sana. Kehidupan pendidikan, secara prinsip lebih maju dari kita walaupun mereka bilang bahwa Pendidikan yang ada adalah meniru Indonesia. Hal ini mereka sadari bahwa sebagian besar rakyatnya dr rumpun melayu. Sebagian besar pula berasal dr Indonesia. Maka mereka menganggap bahwa yang paling tepat adalah meniru Indonesia sebagai saudara tuanya. Tapi yang perlu di garis bawahi adalah: 1) mata pelajaran/mata kuliah yang harus di pelajari tidaklah terlalu banyak. sehingga dapat dikatakan pendidikannya sangat fokus sesuai dengan bidang ilmunya. 2) Fasilitas Pendidikan memang lebih maju dikarenakan kemauan pemerintah untuk mencerdaskan rakyatnya. Hal ini di buktikan bahwa pemerintah mau membiayai rakyatnya untuk biaya sekolah/kuliah. Rakyat yg belum mampu secara financial, pemerintah akan memberikan pinjaman, kemudian akan mengembalikan secara di cicil setidaknya setelah lulus 6 bulan. 3) Tujuan pendidikan yang ada cukup jelas. seperti pendidikan setingkat SMK misalnya. bahwa lulusannya bukan di arahkan sebagai tenaga kerja/kuli. Tetapi sebagai managerial dan tenaga ahli. Hal ini di buktikan bahwa pembelajarannya tidak menganut kompetensi. mereka berprinsip bahwa tenaga kerja/kuli mempunyai harga yang murah. dan hal ini mereka anggap dapat didapat dr negara2 tetangga yg mempunyai penduduk banyak.
di bidang kebudayaan sering kita dengar bahwa banyak hasil budaya dan kerajinan kita di klaim Malaysia. kita tdk menyalahkan merka, karena mereka juga asli Indonesia dan ada di kehidupan nya jg masih terawat dengan baik. sedangkan di kehidupan kita hampir dikatakan sdh tdk terawat dg baik karena masyarakat kt lebih tertarik dg budaya barat yg katanya lebih modern.
Di bidang Sosial Kemasyarakatan, mereka lebih menghargai dan lebih toleransi. hal ini di buktikan dg cara mereka berlalu lintas. walupun tk ada polisi di jlan raya warga akan tetap patuh terhadap aturan. tk ada kebut2an, tk ada yg menyerobot di persimpangan, angkutan umum tk ada yg berhenti selain di halte. dan budaya antri sangat kental. Tetapi kt sering mendengar adanya TKI yg di aniaya/bermasalah. berkenaan dg hal ini kt jangan menyalahkan pihak lain. hal ini karena kesalah kita. diantaranya kesalahan di surat2 palsu seperti paspor dan visa yg berlaku, keahlian yg di miliki tdk sesuai, sikap dan mental yg kurang baik. Untuk itu sebelum ke luar negri siapkan segalannya dg baik.
itulah sekilas yg saya sampaikan. sebenarnnya ingin menyampaikan lebih banyak lagi tp keterbatasan yg akhirnya mengakhiri.

Kamis, 14 Mei 2009

OLAH RAGA TRADISIONAL HARUS DIPERTAHANKAN KEBERADAANYA

YANG HARUS DI PERTAHANKAN DAN DI KEMBANGKAN MASYARAKAT INDONESIA....


Menpora Adiaksa Daud melaului debuti mentri membuka invitasi olah raga tradisional tingkat nasional ke II di pelataran candi borobudur, magelang, jawa tengah.

Acara dibuka jam 10.00 tangal 11 Mei 2009 dengan diikuti oleh seluruh kontingen yang mewakili masing-masing propinsi se-Indonesia.
Kegiatan ini berlangsung 11 s/d 12 mei dengan mata lomba yang dipertandingkan diantaranya: Dagongan putra, Egrang Putra, Trompah Panjang dan Hadang untuk kelompok Putri.


Sebagai Juara umum adalah Kal-Tim.
Kegiatan ini akan akan berlanjut setiap 2 tahunan yaitu pada tahun ganjil.

Selasa, 08 April 2008

perjalan tugas belajar

Antara ya dan Tidak.
aku harus berangakat.sebenarnya sudah mengajukan untuk mengunduran diri dari tugas belajar keluar negeri.tetapi kalau mundur diminta juga mundur dari pasca.inialh dilema yg harus aku jalani.
Akhirnya akupun berangkat walau aku tahu diperlukan biaya yg tidak sedikit
Hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2007 jam 09.00 aku erangkat dari rumah, menuju ke malang.Jam 02.00 aku ertolak ke Surabaya. dan jam 06.00 aku meninggalkan surabaya menuju batam. menginjakan kaki di batam sekitar jam 09.00 wib. kemudian menuju pelabuhan bandar raya. tepat jam 12.00 aku bertolak meninggalkan tanah air menuju pelabuhan situlang laut dengan kapal samudra. sekitar pukul 15.00 sampailah di pemeriksaan imigrasen situlang laut.

kemudian sekitar pukul 17.00 wib/18.00 waktu malaysia kami dijemput petugas dari UTHM batu pahat.





sampai di batu pahat kita makan dulu di kedai makan. sesaat kemudian kami sampai di asrama mahasiswa wisma kediaman perwira jl pangsa puri kampung dinding ,parit raja, batu pahat, johor. dan aku, b. tri, bambang hp menempati 1 kamar. muali saat itulah kami resmi mulai hidup di negeri jiran.









Selasa, 05 Februari 2008

RENDAHNYA KEGIATAN PRAKTEK PRODUKTIF

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara seperti tertulis pada Undang-undang Sistem. Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 1 ayat 1.
Di dalam PP 19 tahun 2005 Bab IV pasal 19 tertulis Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi pesrta didik. Hal ini berlaku pada sekolah umum maupun pada sekolah kejuruan
Kamars (1989:65) pada umumnya Sekolah Menegah Umum tingkat Atas lebih ditekankan pada jalur akademik, walaupun secara teoritis dinyatakan juga untuk persipan memasuki lapangan kerja. Pad tujuan SMA itu sendiri masih dicantumkan sebagai persipan untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi (Perguruan Tinggi) dan untuk bekerja di masyarakat.
Pendidikan kejuruan yang dikenal dengan SMK adalah bagian dari sistem Pendidikan Nasional pada jenjang pendidikan menengah dengan pengembangan kemampuan peserta didik agar dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, dapat melihat peluang kerja, dan dapat mengembangkan diri di masa yang akan datang.
Dengan demikian Sekolah Menengah Kejuruan, dituntut untuk mampu menghasilkan lulusan yang diharapkan oleh dunia kerja, industri maupun masyarakat. Sebagai tenaga kerja yang dibutuhkan, harus memiliki kompetensi sesuai bidangnya dan mempunyai daya saing yang tinggi.
Calhoum dan Finch (1982) dalam Sonhadji, mendefinisikan pendidikan kejuruan sebagai program pendidikan terorganisasi, yang secara langsung berkaitan dengan penyiapan lulusan memasuki dunia kerja. Sehubungan dunia kerja ini mereka menyatakan bahwa dalam menyelenggarakan program pendidikan kejuruan, yang harus diperhatikan adalah perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi budaya dan hidup manusia.
Dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran agar benar-benar efektif, maka fungsi media pembelajaran sangat penting. Dalam De-Potter (2000) menyatakan, tingkat penyerapan informasi lewat telinga sebesar 20%; penyerapan informasi lewat mata saja sebesar 30%; lewat mata dan telinga 50%; lewat mata, telinga dan diskusi sebesar 70%; lewat mata, telinga, diskusi, latihan, dan penggunaan, penyerapan informasi se-besar 90%. Pemakaian media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi daya cerna siswa terhadap informasi atau materi ajar yang diberikan.
Telah banyak dana diinvestasikan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pengadaan atau pendistribusian berbagai macam media pembelajaran ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Namun tingkat efektifitas penggunaan media pembelajaran sangat tergantung pada derajat kesesuaiannya dengan materi diklat yang akan diajarkan, disamping tergantung juga pada keahlian guru dalam menggunakan media tersebut.
Disisi lain, siswa harus dapat memanfaatkan waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk dapat memaksimalkan kegiatan belajar praktek produktif. Hal ini bertujuan lebih menguasai dan memahami tututan kompetensi, sehingga nantinya mampu bersaing dengan persyaratan dunia industri/dunia usaha maupun tuntutan masyarakat. Tentunya dengan bimbingan instruktur masing-masing bidang keahlian.
B. PERMASALAHAN
Melihat kenyataan tersebut diatas, dan pengamatan beberapa saat diperoleh bahwa kegiatan belajar praktek produktif di bengkel SMK telah mengalami perubahan. Beberapa waktu yang berlalu bengkel selalu ramai dengan kesibukan siswa belajar praktek, tetapi saat sekarang terlihat sepi dari kegiatan walaupun jadwal telah terpampang. Siswa banyak yang tersebar dibeberapa tempat hanya mengobrol dan beberapa siswa lagi tiduran di ruang ganti ataupun nongkrong di kantin. Bahkan guru pembimbing /intruktur tak ada ditempat.
Dengan demikian dapat kami sampaikan rumusan masalah yang ada yaitu:
1. Adakah Job/pekerjaan dan pengelolaan siswa secara jelas ?
2. Apakah instruktur dituntut selalu mendampingi siswa praktek?
3. Apakah sarana dan prasarana mencukupi sesuai dengan tututan kompetensi yang diajarkan?


C. PEMBAHASAN
1. Job/pekerjaan dan pengelolaan siswa
Seorang guru khususnya praktek produktif sebelum melaksanakan proses belajar mengajar harus mempersiapkan beberapa hal diantaranya adalah: Daftar Hadir, Daftar Nilai, Rencana Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Lembar kerja siswa, Job-sheet, dan Alat Evaluasi. Apabila hal tersebut telah terpenuhi barulah melaksanakan proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Buku Pedoman Mutu SMK (2005:4) semua kegiatan belajar mengajar harus sudah direncanakan secara baik dan terprogram sebelum dilaksanakan.
Dalam proses belajar mengajar dituntut kemampuan dan kecerdasan guru dalam mensiasati kondisi yang ada. Tentunya bagaimana mengelola siswa sesuai dengan rencana pembelajaran, materi pembelajaran dan jumlah siswa belajar serta sarana prasarana yang tersedia. Lain dari itu instrument dan pembagian kelompok siswa harus jelas dan mudah dipahami.
2. Pendampingan Instruktur saat siswa praktek
Siswa SMK adalah usia yang sedang berkembang, baik secara fisik maupun emosional. Sehingga jiwa masih labil dan mudah dipengaruhi oleh adanya situasi lingkungan. Kegiatan yang mereka lakukan akan ikut berperan membentuk perilaku dan polapikirnya. Dalam kaitanya perilaku terhadap tugas yang telah diterima dan harus diselesaikan akan sangat tergantung bagaimana cara penyampaian tugas dan bagaimana pengawasan terhadap pelaksanaan penyelesaian tugas.
Dalam Pedoman Mutu SMK (2005:4) bahwa proses kegiatan belajar mengajar disekolah dilakukan oleh team pengajar/team instruktur. Dengan demikian insruktur harus selalu memantau kegiatan yang dilakukan siswa. Apakah sudah sesuai dengan tugas yang diberikan, bagaimana cara penyelasaian tugas, sampai dimana tugas diselesaikan, adakah kendala/hambatan dalam penyelesaian tugas. Hal ini penting dalam rangka memberikan bimbingan dan solusi yang diperlukan dalam membantu siswa belajar.
Akan tetapi pendampingan tidak selamanya dapat berlangsung. Kita tahu guru mempunyai tugas sampingan dan tugas lain dari lembaga yang semuanya menuntut penyelesaian dengan cepat. Untuk itu ada kalanya guru meninggalkan siswa beberapa saat untuk menyelesaikan tugas lain. Saat seperti ini di perlukan kerja sama antar guru/team maupun antar siswa serta guru dan siswa.
Kondisi seperti ini harus diatur dan disesuaikan dengan factor-faktor mana yang sangat urgen untuk diselesaikan lebih dulu. Siswa praktek dan menyelesaikan tugasnya dibengkel, penuh dengan resiko, dan selalu dalan ancaman bahaya. Seharusnya aturan keselamatan dan kesehatan kerja lebih ditekankan, untuk menghindari dan meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja. Sehingga saat guru meninggalkan siswa praktek untuk beberapa saat, ancaman bahanya bisa dikurangi dan siswa akan tetap merasa nyaman dalam bekerja.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah suatu hal yang sangat vital di sekolah menengah kejuruan. Seperti yang kita tahu untuk bisa mendidik dan mengasilkan alumni yang trampil dan siap kerja diperlukan latihan ketrampilan kerja yang berkelanjutan dan sarana dan prasarana yang memadai. Sehingga sarana dan prasarana dituntut harus terpenuhi sesuai dengan materi pelatihan yang telah direncanakan.
Dalam Pedoman Mutu SMK (2005:1) Sarana dan prasarana mencakup :
· Gedung, ruang kerja, dan kelengkapan terkait, Peralatan proses,
· Alat/jasa pendukung, antara laian: angkutan, komunikaasi, dll.
Peralatan proses yang dimaksud disini adalah semua alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan dan mendukung semua kegiatan proses belajar mengajar khususnya praktek produktif. Bila alat yang diperlukan tidak ada dan tidak tersedia sudah tentu akan terjadi hambatan. Demikian juga dengan bahan praktek, yang mana bila bahan praktek berkurang atau sampai tidak ada, secara otomatis kegiatan praktek akan terganggu dan semua itu akan menghambat tercapainya tujuan pembelajaran.
Dalam pemenuhan sarana prasarana ini harus diperlukan perhitungan secara matang. Sebab bila tidak tepat dan akurat sesuai dengan tuntutan dari rencana pembelajaran, dalam pelaksanaanya mengalami hambatan. Untuk itu perlu adanya kooardinasi dalam penyusunan rencana kebutuhan alat dan bahan dalam periode tertentu.
Sebagai penangung jawab pemenuhan sarana prasarana di program keahlian adalah ketua program bersama dengan kepala bengkel. Dalam pemenuhan disini tidak hanya mengadakan, tetapi juga perawatan berkala dan perbaikan adanya kerusakan. Kemudian dari program keahlian dikonsultasikan dan dikoordinasikan ke bagian sarana dan prasarana untuk diproses lebih lanjut.

D. Kesimpulan dan Saran
Diperlukan adanya Jobsheet dan lembar kerja siswa yang baku sebagai pedoman dan acuan untuk setiap kompetensi, sehingga setiap kegiatan belajar sudah terkendali dengan baik.
Instruktur selalu memperhatikan dan usahakan mendampingi siswa dalam kegiatan belajar, komunikasikan dengan baik bila ada pekerjaan lain yang menuntut diselesaikan dengan cepat, atau ada keperluan/acara yang bersamaan waktunya misal: rapat koordinasi, rapat tingkat manajemen, rapat panitia, ada tamu, dinas luar dan lain sebagainya.
Kebutuhan sarana dan prasarana bengkel disusun sesuai dengan kebutuhan dari praktek kompetensi dan sarana pendukungnya, sehingga akan memperlancar kegiatan yang diselenggarakan.
Adanya kesepakatan dan kesadaran bersama tentang tugas dan tanggung jawab yang harus di jalankan pada masing-masing personal sehingga pelaksanaan kegiatan akan terasa nyaman dan menyenangkan.


DAFTAR RUJUKAN
Team ISO SMK N2 Kendal, 2005, Pedoman Mutu SMK N2 Kendal, SMK N2 Kendal.

De-Potter, Reardon, Sinyu, Nourie, 2000, Quantum Teaching, Kaifa, Bandung,

Sonhadji.A, 2006, Bahan Perkuliahan Landasan Pendidikan Kejuruan, Universitas Negeri Malang, Malang.

Depdiknas, 2005, Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.

Depdiknas, 2003,Undang-undang Sistem. Pendidikan Nasional tahun 2003, Jakarta.

Kamars, Dachnel. 1989. Sistim Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi Suatu Perbandingan antar beberapa Negara. Proyek pengembanngan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta.

Sabtu, 05 Januari 2008

SMK SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB

PENDIDIKAN KEJURUAN Siapa yang harus bertanggung jawab?

Seorang anak yang terampil dan berbakat, bercita-cita menjadi teknisi. Dia masuk sekolah kejuruan otomotif. Seharusnya dia menghabiskan sebagian besar waktu pelatihannya di bengkel kerja, tetapi di sekolah itu hanya ada satu mobil praktek yang bisa untuk latihan, dan ada dua mesin lain mendongkrok di pojok dalam kondisi memprihatinkan. Karena ada 36 anak dalam 1 kelas yang harus belajar otomotif maka guru menempel gambar mobil dan mesin yang besar, dan berjam-jam menjelaskan kerja mesin itu di depan anak-anak yang sebagian mengantuk dan sebagian lain mengobrol dengan temannya. Ketika anak tersebut lulus dan melamar pekerjaan, dia dites untuk menaangani service ringan, Dia termangu-mangu dan bingung. Jangankan mengerjakan tugas, pakai alatpun dia tidak tahu.
Itulah sekilas situasi pendidikan kejuruan di negeri kita. Di satu sisi negara dan industri membutuhkan tenaga-tenaga kerja terampil dari sekolah-sekolah kejuruan. Di sisi lain, pendidikan kejuruan yang berkualitas belum mendapat penghargaan yang layak dari masyarakat dan pemerintah. Selaian itu pengangguran semakin ertamah setiap tahun, baik yang tidak berpendidikan, maupun yang bergelar sarjana. Tetapi, begitu sulit menemukan tenaga kerja yang benar-benar siap pakai dibidangnya.
Sedangkan informasi yang cukup meyakinkan bahwa SMK pada tahun 2010 akan lebih banyak jumlahnya dibanding SMA, hingga akhirnya mencapai perbandingan 70% jumlah SMK dan 30% jumlah SMA. Dengan kondisi seperti ini tentunya membutuhkan tenaga yang profesional, dana yang cukup, sarana yang memadai dan management yang baik. Bagaimanakah sistem pendidikan kejuruan kita?

Pendidikan/Pelatihan yang berorientasi pasar
Depdiknas, menegaskan sebuah kebijakan umum untuk menata sistem pendidikan kejuruan di setiap wilayah/daerah dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengacu pada kecenderungan kebutuhan pasar kerja, baik secara regional, nasional, maupun global. Kebijakan ini adalah kenyataan, SDM kita tidak mampu bersaing secara global karena pola pembelajaran yang telah diimplementasikan bertahun-tahun ternyata tidak mampu menghasilkan kualitas tamatan yang memenuhi standar kompetensi tempat kerja.
Kalau kita tinjau kebijakan ini antara lain menyoroti pentingnya dua hal. Pertama, jenis program diklat harus dikembangkan atas dasar tuntutan kebutuhan dunia kerja (market driven atau demand driven). Kedua, program pembelajaran harus dikembangkan dan dilaksanakan mengacu pada pencapaian berbasis kompetensi (competency based training/CBT).
Dalam konteks pendidikan kejuruan tehnik, ada dua asumsi dasar yang perlu diperjelas. Market driven dalam pasar tenaga kerja berarti tenaga kerja yang mampu menghasilkan satu produk barang/jasa yang bisa dijual, bisa dipakai atau tidak. Konsekuensinya, pengertian kompetensi yang diartikan sebagai kemampuan untuk mentransfer ketrampilan dan pengetahuan pada kondisi tempat kerja, merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan, serta mengatasi persoalan yang timbul dalam pekerjaan, hanya bisa dijamin bila siswa terlatih untuk menghadapi tuntutan pasar yang sering tidak mengenal kompromi.
Satu metode diklat yang sudah teruji efisiensi dan efektivitasnya adalah production based training, di mana siswa dikondisikan sejak awal pada tuntutan nyata pasar industri, dan dilatih sampai bisa menghasilkan benda kerja yang bisa dijualMelalui metode ini siswa dilatih untuk mencapai tingkat kualitas yang sesuai tuntutan pasar. Siswa juga dibekali untuk mampu bekerja dengan tingkat efisiensi tinggi sehingga bisa menekan biaya produksi, yang akhirnya akan mampu meningkatkan daya jual produk itu. Tanpa kemampuan dasar ini, CBT dalam artian di atas mungkin bisa menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, dan tidak mampu bersaing.

"Production based training"
Di negara-negara maju, biaya penyelenggaraan pendidikan kejuruan ini ditopang sepenuhnya oleh negara atau industri. Tetapi, di negara kita hal ini belum bisa diharapkan, baik dari pemerintah maupun industri. Dana penyelenggaraan sekolah kejuruan harus diusahakan sendiri. Maka, beberapa sekolah kejuruan mencoba menerapkan production based training dengan mengintegrasikan unit produksi dalam sistem pendidikannya.
Untuk sekolah menengah kejuruan, digunakan dasar Peraturan Pemerintah (PP), yakni PP Nomor 29 Tahun 1990 Bab XI tentang Pembiayaan, khususnya Pasal 29 Ayat 2. Disebutkan, "untuk mempersiapkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan menjadi tenaga kerja, pada sekolah kejuruan dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara profesional dengan pengertian bahwa--pekerjaan yang dikerjakan berorientasi pasar, mampu bersaing dalam harga, mutu, pelayanan dan waktu pengiriman (marketable), serta dikelola secara bertanggung jawab (accountable)".
Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0490/II/1992 Bab XIII Pasal 30 Ayat 1 mempertegas, kegiatan unit produksi meliputi: mengorientasikan kegiatan belajar siswa pada jenis pekerjaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa yang layak untuk dijual.Dari sekian sekolah kejuruan yang mengusahakan unit produksi, hanya sedikit yang sungguh berhasil. Diakui, memang tidak mudah mengelolanya. Selain ada kendala biaya investasi dan operasional yang amat tinggi, juga masih ditambah kendala-kendala internal dan eksternal lain.
Kendala-kendala itu antara lain: pertama, kendala manajemen. Menjalankan unit produksi dalam satu sistem pendidikan adalah seperti mengendalikan dua kuda yang berlari ke arah berlawanan. Secara alamiah dorongan produksi untuk mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya akan dengan mudah mengaburkan misi pendidikan yang murni bersifat sosial. Karena itu dibutuhkan sebuah manajemen yang bervisi jelas dan tegas, yang selalu siap berada dalam dua ketegangan tersebut
Kedua, kendala strategi bisnis. Biaya operasional dari unit produksi yang menopang pendidikan ini akan menjadi tinggi sehingga daya saing bisnisnya akan berkurang. Pabrik atau industri pada umumnya tidak akan mengoperasikan mesin-mesin bila tidak ada pesanan. Sedangkan unit produksi di sekolah kejuruan harus tetap menjalankan mesin-mesinnya, meski tidak ada pesanan dari luar, supaya siswa bisa tetap berlatih.
Ketiga, ketiadaan perlindungan terhadap beban pajak keuntungan. Tidak adanya peraturan pemerintah yang secara tegas melindungi unit produksi milik sekolah kejuruan, membuat sekolah kejuruan ada pada posisi sulit berkaitan dengan pajak. Sekolah kejuruan yang berkualitas hanya mungkin terwujud bila selalu diusahakan reinvestasi dalam permesinan dan teknologi.
Sebagai kesimpulan bisa dikatakan, dibutuhkan sebuah usaha menyeluruh untuk menyelamatkan situasi pendidikan kejuruan di negeri ini. Tidak hanya metode diklat dan pembinaan SDM yang mengelola sekolah kejuruan yang harus diperhatikan, tetapi juga kelangsungan hidup dalam jangka panjang dari sekolah kejuruan itu melalui produk-produk hukum yang melindunginya.
Seandainya perubahan tidak dilakukan, barangkali tidak hanya sekolah kejuruan saja yang akan hancur, tetapi juga terancamnya perekonomian bangsa ini. Kalau demikian SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB??..........

ANALISA DAN PERBAIKAN KOPLING

I. Diagnosa dan Perbaikan Kerusakan Kopling. Memelihara kopling dapat dibagi menjadi tiga jenis :\ a. Pemeliharaan preventif. Memeriks...